Sabtu, 31 Desember 2011

MENGENAL LEBIH DALAM SUKU TENGGER


MAKALAH ILMU SOSIAL DASAR
MENGENAL LEBIH DALAM SUKU TENGGER
Dosen Pengampu :        Dr. Hj. Mufidah CH, M. Ag



Oleh  :
Adym Ashari 10220104


JURUSAN HUKUM BISNIS SYARIAH
FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Indonesia adalah negera yang kaya akan budaya. Terlahir sebagai negera agraris yang terdapat banyak kepulauan. Sekitar 13.487 pulau yang ada dinegera ini. Sungguh Negara Indonesia adalah Negara yang sangat membangga kan dari segi kebudayaan dan kekayaan alamnya akan tetapi dalam segi ekonomi masih saja banyak rakyat Indonesia ini yang di bawah garis kemiskinan.
Sejarah Indonesia banyak dipengaruhi oleh bangsa lainnya. Kepulauan Indonesia menjadi wilayah perdagangan penting setidaknya sejak abad ke-7, yaitu ketika Kerajaan Sriwijaya di Palembang menjalin hubungan agama dan perdagangan dengan Tiongkok dan India. Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha telah tumbuh pada awal abad Masehi, diikuti para pedagang yang membawa agama Islam, serta berbagai kekuatan Eropa yang saling bertempur untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah Maluku semasa era penjelajahan samudra. Setelah berada di bawah penjajahan Belanda, Indonesia yang saat itu bernama Hindia Belanda menyatakan kemerdekaannya di akhir Perang Dunia II. Selanjutnya Indonesia mendapat berbagai hambatan, ancaman dan tantangan dari bencana alam, korupsi, separatisme, proses demokratisasi dan periode perubahan ekonomi yang pesat.
Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia terdiri dari berbagai Suku, bahasa dan agama yang berbeda. Suku Jawa adalah grup etnis terbesar dan secara politis paling dominan. Semboyan nasional Indonesia, "Bhinneka tunggal ika" ("Berbeda-beda tetapi tetap satu"), berarti keberagaman yang membentuk negara. Selain memiliki populasi padat dan wilayah yang luas, Indonesia memiliki wilayah alam yang mendukung tingkat keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia.
Indonesia memiliki sekitar 300 kelompok etnis, tiap etnis memiliki warisan budaya yang berkembang selama berabad-abad, dipengaruhi oleh kebudayaan India, Arab, Cina, Eropa, dan termasuk kebudayaan sendiri yaitu Melayu. Contohnya tarian Jawa dan Bali tradisional memiliki aspek budaya dan mitologi Hindu, seperti wayang kulit yang menampilkan kisah-kisah tentang kejadian mitologis Hindu Ramayana dan Baratayuda. Banyak juga seni tari yang berisikan nilai-nilai Islam. Beberapa di antaranya dapat ditemukan di daerah Sumatera seperti tari Ratéb Meuseukat dan tari Seudati dari Aceh.
Seni pantun, gurindam, dan sebagainya dari pelbagai daerah seperti pantun Melayu, dan pantun-pantun lainnya acapkali dipergunakan dalam acara-acara tertentu yaitu perhelatan, pentas seni, dan lain-lain
Kebudayaan nasional adalah kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasional. Definisi kebudayaan nasional menurut TAP MPR No.II tahun 1998, yakni :
Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Wujud, Arti dan Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli baik Masyarakat Pendukukungnya, Semarang: P&K, 199
Dalam kesempatan kali ini saya mencoba mengankat sebuah tema yang mengangkat kebudayaan Suku di pulau jawa yang konon katanya Suku ini adalah Suku peninggalan masyarakat majapahit, suatu kerajaan yang pernah Berjaya tahun 1350 hingga 1389 masehi.









B.     Tujuan Penelitian

1.      Mencoba mengangkat kebudayaan Indonesia agar para generasi bangsa meperhatikannya karna semakin tahun kebudayaan ini semakin kurang diperhatikan
2.      Mencoba mengenalkan salah satu budaya Indonesia yang perlu dipertahankan sebagai kekayaan bangsa ini
3.      Mengenal lebih jauh kebudayaan Suku Tengger
4.      Memperhatikan pandangan Suku Tengger dalam memandang pendidikan anak dan pemudanya

C.     Rumusan Masalah.
1.      Apa itu Suku Tengger ?
2.      Bagaimana kehidupan Suku Tengger?
3.      Bagaimana aspek pendidikan Suku Tengger?












HASIL PENELITIAN
Suku Tengger
Suku Tengger adalah Suku pegunungan yang mendiami wilayah pegunungan semeru dan Bromo di Profinsi Jawa Timur, yakni ; Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Malang dan Lumajang, karena daerah-daerah inilah wilayah pegunungan Bromo dan semeru. Suku ini sudah sejak lama mendiami sekitar lereng pegunungan Bromo dan semeru,
Sejarah Suku tengger.
Alkisah, zaman dahulu, ada seorang putri Raja Brawijaya dengan Permaisuri Kerajaan Majapahit. Namanya Rara Anteng. Karena situasi kerajaan memburuk, Rara Anteng mencari tempat hidup yang lebih aman dan pergi ke Pegunungan Tengger.
Di Desa Krajan, ia singgah satu windu, kemudian melanjutkan perjalanan ke Pananjakan. Ia menetap di Pananjakan dan mulai bercocok tanam. Rara Anteng kemudian diangkat anak oleh Resi Dadap, seorang pendeta yang bermukim di Pegunungan Bromo.
Sementara itu, Kediri juga kacau sebagai akibat situasi politik di Majapahit. Joko Seger, putra seorang brahmana, mengasingkan diri ke Desa Kedawung sambil mencari pamannya yang tinggal di dekat Gunung Bromo.
Di desa ini, Joko Seger mendapatkan informasi adanya orang-orang Majapahit yang menetap di Pananjakan. Joko Seger pun melanjutkan perjalanannya sampai Pananjakan. Joko Seger tersesat dan bertemu Rara Anteng yang segera mengajaknya ke kediamannya. Sesampai di kediamannya, Rara Anteng dituduh telah berbuat serong dengan Joko Seger oleh para pinisepuhnya. Joko Seger membela Rara Anteng dan menyatakan hal itu tidak benar, kemudian melamar gadis itu. Lamaran diterima. Resi Dadap Putih mengesahkan perkawinan mereka.
Sewindu sudah perkawinan itu namun tak juga mereka dikaruniai anak. Mereka bertapa 6 tahun dan setiap tahun berganti arah. Sang Hyang Widi Wasa menanggapi semedi mereka. Dari puncak Gunung Bromo keluar semburan cahaya yang kemudian menyusup ke dalam jiwa Rara Anteng dan Joko Seger. Ada pawisik mereka akan dikaruniai anak, namun anak terakhir harus dikorbankan di kawah Gunung Bromo. Pasangan ini dikarunia 25 anak sesuai permohonan mereka, karena wilayah Tengger penduduknya sangat sedikit. Putra terakhir bernama R Kusuma. Bertahun-tahun kemudian Gunung Bromo mengeluarkan semburan api sebagai tanda janji harus ditepati. Suami istri itu tak rela mengorbankan anak bungsu mereka. R Kusuma kemudian disembunyikan di sekitar Desa Ngadas. Namun semburan api itu sampai juga di Ngadas. R Kusuma lantas pergi ke kawah Gunung Bromo.
Dari kawah terdengar suara R Kusuma supaya saudara-saudaranya hidup rukun. Ia rela berkorban sebagai wakil saudara-saudaranya dan masyarakat setempat. Ia berpesan, setiap tanggal 14 Kesada, minta upeti hasil bumi. Cerita lain menunjukkan saudara-saudara R Kusuma menjadi penjaga tempat-tempat lain. Kini banyak wisatawan yang datang ke Bromo pada saat upacara berlangsung. Upacara itu terkenal dengan nama Kesada. Pada upacara Kesada, salah satu bagiannya adalah, dukun selalu meriwayatkan kisah Joko Seger – Rara Anteng.
Agama Suku Tenger
Suku Tengger mayoritas beragama Hindu walaupun juga ada yang beragama islam dan kristen , turun-temurun hidup di wilayah Gunung Bromo, Jawa Timur. Kulitnya sawo matang, perawakannya sedang, wajahnya rata-rata lebar.
Makna Tengger
Ada banyak makna yang dikandung dari kata Tengger. Secara etimologis, Tengger berarti berdiri tegak, diam tanpa bergerak (Jawa). Bila dihubungkan adat dan kepercayaan, arti Tengger adalah tengering budi luhur.
Artinya tanda bahwa warganya memiliki budi luhur. Makna lainnya adalah: daerah pegunungan. Tengger memang berada pada lereng pegunungan Tengger dan Semeru. Ada pula pengaitan Tengger dengan mitos masyarakat tentang suami istri cikal bakal penghuni wilayah Tengger, yakni Rara Anteng dan Joko Seger.
Warga Tengger pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani sayuran. Kesuburan lahan di lereng-lereng perbukitan dengan kemiringan yang terjal ini tidak terlepas dari kondisi pegunungan Tengger yang berada di antara dua gunung yang masih aktif, Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Pertanian yang mereka hasilkan dijual keluar desanya dengan bantuan pengepul yang yang datang dari Probolinggo, Pasuruan bahkan dari Surabaya datang untuk membeli hasil pertanian dari peggunungan tengger. Selain bertani, ada sebagian masyarakat Tengger yang berprofesi menjadi pemandu wisatawan di Bromo. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan menawarkan kuda yang mereka miliki untuk disewakan kepada wisatawan.
Pertunangan dan Perkawinan
Pada umumnya masyarakat Tengger mempunyai pendirian yang cukup bermoral atas perkawinan. Poligami dan perceraian boleh dikatakan tidak pernah terjadi. Perkawinan di bawah umur juga jarang terjadi. Dalam pertunangan (pacangan), lamaran dilakukan oleh orangtua pria. Sebelumnya didahului dengan pertemuan antara kedua calon, atas dasar rasa senang kedua belah pihak. Apabila kedua belah pihak telah sepakat, maka orangtua pihak wanita (sebagai calon) berkunjung ke orangtua pihak pria untuk menanyakan persetujuannya atau notok. Selanjutnya apabila orangtua pihak pria telah menyetujui, diteruskan dengan kunjungan dari pihak orangtua pria untuk menyampaikan ikatan (peningset) dan menentukan hari perkawinan yang disetujui oleh kedua belah pihak. Sesudah itu barulah upacara perkawinan dilakukan.
Sebelum acara perkawinan biasanya telah dimintakan nasihat kepada dukun mengenai kapan sebaiknya hari perkawinan itu dilaksanakan. Dukun akan memberikan saran (menetapkan) hari yang baik dan tepat, ‘papan’ tempat pelaksanaan perkawinan, dan sebagainya. Setelah hari untuk upacara perkawinan ditentukan, maka diawali selamatan kecil (dengan sajian bubur merah dan bubur putih).
Sebagai kelengkapan upacara perkawinan, maka pasangan pengantin diarak (upacara ngarak) keliling, diikuti oleh empat gadis dan empat jejaka dengan diiringi gamelan. Pada upacara perkawinan pengantin wanita memberikan hadiah bokor tembaga berisi sirih lengkap dengan tembakau, rokok dan lain, sedangkan pengantin pria memberikan hadiah berupa sebuah keranjang berisi buah-buahan, beras dan mas kawin.
Pada upacara asrah pengantin, masing-masing pihak diwakili oleh seorang utusan. Para wakil mengadakan pembicaraan mengenai kewajiban dalam perkawinan dengan disaksikan oleh seoran dukun. Pada upacara pernikahan dibuatkan petra (petara: boneka sebagai tempat roh nenek moyang) supaya roh nenek moyangnya bisa hadir menyaksikan.
Biasanya setelah melakukan perkawinan kemanten pria harus tinggal dirumah (mengikuti) kemanten wanita.
Hak Waris
Pada dasarnya masyarakat Tengger mempertahankan hak waris tanah untuk anak keturunan mereka saja. Apabila ada keluarga yang terpaksa menjual hak tanah, diusahakan untuk dibeli oleh keluarga yang terdekat. Pewarisan kepada anak-turunannya ditentukan oleh kerelaan pihak orang tua, bukan atas dasar aturan ketat yang dibakuka
Upacara Adat
Suku Tengger kaya akan kepercayaan dan upacara adat, diantaranya ialah:
Upacara Adat Karo : Dilakukan pada bulan Puso, yang merupakan hari raya terbesar masyarakat Tengger, tujuan penyelenggaraan upacara karo adalah Mengadakan pemujaan terhadap Sang Hyang Widi Wasa dan menghormati leluhurnya, memperingati asal usul manusia, untuk kembali pada kesucian.
Upacara Pujan Kapat : Jatuh pada bulan keempat menurut tahun saka, bertujuan untuk memohon berkah keselamatan serta selamat kiblat, yaitu pemujaan terhadap arah mata angin.
Upacara Pujan Kawolu : Jatuh pada bulan kedelapan tahun saka. Masyarakat mengirimkan sesaji ke kepala desa, dengan tujuan untuk keselamatan bumi, air, api, angin, matahari, bulan dan bintang.
Upacara Pujan Kasanga : Jatuh pada bulan sembilan tahun saka. Masyarakat berkeliling desa dengan membunyikan kentongan dengan membawa obor. Tujuan upacara ini adalah memohon kepada Sang Hyang Widi Wasa untuk keselamatan Masyarakat Tengger.
Upacara Pujan Kasada : Upacara ini disebut juga sebagai Hari Raya Kurban. Biasanya lima hari sebelum upacara Yadnya Kasada.
Upacara Bari’an : Upacara ini dilakukan setelah terjadi bencana alam, dilaksanakan 5-7 hari setelah bencana itu terjadi. Upacara Bari’an juga dilaksanakan sebagai wujud ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widi.
Upacara Unan-unan : Diadakan hanya setiap lima tahun sekali. Tujuannya untuk melalukakan penghormatan terhadap Roh Leluhur. Dalam upacara ini selalu diadakan penyembelihan binatang ternak yaitu Kerbau. Kepala Kerbau dan kulitnya diletakkan diatas ancak besar yang terbuat dari bambu, diarak ke sanggar pamujan.
Upacara Entas-entas : Dimaksudkan untuk menyucikan arwah (roh) orang yang telah meninggal dunia supaya orang tersebut masuk surga, dilakukan pada hari ke 1000 setelah orang tersebut meninggal
Kalender Suku Tengger
Suku Tengger sudah mengenal dan mempunyai sistem kalender sendiri yang mereka namakan Tahun Saka atau Saka Warsa., jumlah usia kalender suku tengger berjumlah 30 hari (masing-masing bulan dibulatkan),tetapi ada perbedaan penyebutan usia hari yaitu antara tanggal 1 sampai dengan 15 disebut tanggal hari,dan 15 sampai 30 disebut Panglong Hari (penyebutannya adalah Panglong siji,panglong loro dan seterusnya) . Pada tanggal dan bulan tertentu terdapat tanggal yang digabungkan yaitu tumbuknya dua tanggal. Pada tanggal
Perhitungan Tahun Saka di Indonesia jatuh pada tanggal 1 (sepisan) sasih kedhasa (bulan ke sepuluh), yaitu sehari setelah bulan tilem (bulan mati), tepatnya pada bulan Maret dalam Tahun Masehi (Supriyono, 1992). Cara menghitungnya dengan rumus : tiap bulan berlangsung 30 hari, sehingga dalam 12 bulan terdapat 360 hari. Sedangkan untuk wuku dan hari pasaran tertentu dianggap sebagai wuku atau hari tumbuk, sehingga ada dua tanggal yang harus disatukan dan akan terjadi pengurangan jumlah hari pada tiap tahunnya. Untuk melengkapi atau menyempurnakannya diadakan perhitungan kembali setiap lima tahun, atau satu windu tahun wuku. Pada waktu itu ada bulan yang ditiadakan, digunakan untuk mengadakan perayaan Unan-unan, yang kemudian tanggal dan bulan seterusnya digunakan untuk memulai bulan berikutnya, yaitu bulan Dhesta atau bulan ke-sebelas.
MECAK (Perhitungan Kalender Tengger ),istilah mecak biasanya digunakan untuk menghitung atau mencari tanggal yang tepat untuk melaksankan Upacara-upacara besar seperti Karo,Kasada maupun Upacara Unan-unan.


NAMA – NAMA HARI SUKU TENGGER.
1. DHITE :                            MINGGU
2. SHOMA :
                         SENIN
3. ANGGARA :
                   SELASA
4. BUDHA :
                         R A B U
5. RESPATI :
                        KAMIS
6. SUKRA :
                          JUM’AT
7. TUMPEK :
                       SABTU

NAMA – NAMA BULAN SUKU TENGGER
1. KARTIKA :                      KASA
2. PUSA :
                              KARO
3. MANGGASTRI :
            KATIGA
4. SITRA :
                            KAPAT
5. MANGGAKALA :
          KALIMA
6. NAYA :
                            KANEM
7. PALGUNO :
                    KAPITU
8. WISAKA :
                       KAWOLU
9. JITO :
                               KASANGA
10. SERAWANA :
              KASEPOLOH
11. PANDRAWANA :
        DESTHA
12. ASUJI :
                          KASADA

Permaslahan
Permasalahan pertama yang sangan urgent adalah kurangnya perhatian pemerintah kita akan pentingnya menjaga kekayaan budaya yang ada di negarakita ini. Seiring perkembangan zaman kebudayaan di Negeri ini semakin luntur, semakin pesatnya pekembangan teknologi
Dari wawancara yang kami lakukan dengan penjaga kantor raadiologi di taman nasional Bromo Tengger semeru, masyarakat tenggger terutama yang beragama hindu kurang sekali memperhatikan pendidikan, bukan karena mereka tidak mampu akan tetapi dalam anggapan mereka tanpa mereka sekolah mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan (materi), mereka bisa beli mobil, sepeda motor dan lain sebagainya, mayoritas riwayat pendidikan mereka adalah sekolah dasar. Mata pencaharian Suku Tengger rata-rata adalah bertani sayur-sayuran. Dari hasil inilah mereka banyak memperroleh keuntungan untuk dapat membeli apa yang mereka inginkan.
Yang uniknya pada Suku ini ialah mereka sangat rukun dengan para masyarakat Tengger lainnya yang memeluk agam selain agama hindu, di mata mereka semua agama tidak ada bedanya, malah ada yang beranggapan Tengger itulah agama mereka jadi tak ada perpedaan keyakinan diantara mereka.

Solusi Masalah
Kita sebagai mahasiswa haruslah sadar akan pentingnya menjaga kebudayaan Negeri kita tersinta ini. Dengan kesadaran generasi bangs ini mungkin dapat mengurangi tingkat kelunturan budaya di Negara ini. Yang sangat penting sebenarnya adalah peran pemerintah dalam mempertahankan kebudayaan. Jangan hanya waktu salah satu kebudayaan kita dicaplok negara lain pemeirntahan baru ribut membicarakannya.
Dan juga yang tidak kalah pentingnya adalah peran mahasiswa. Banyak organisasi-organisasi mahasiswa yang berkembang di kampus-kampus, nah sumbangsih dari oraganisasi inilah yang sangat di harapkan dapat membantu melestarikan budaya Indonesia. Dengan menyumbangkan segenap pemikiran dan tenaganya untuk dapat mengangkat kembali kekayaan budaya yang ada di Indonesia ini.
Dalam masalah pendidikan mahasiswa juga berperan penting dalam peningkatan pendidikan masyarakat pedalaman seperti Suku Tengger ini. Contoh mahasiswa dapat mengadakan bakti social ke daerah-daerah pedalaman yang terisolir, dan luput dari perhatian pemerintah, sebagaimana yang akan saya lakukan tanggal 12-15 januari nanti. Saya bersama saudara-saudara saya di MAPALA TURSINA akan mengadakan bakti sosial di dusun pusung daerah singosari. Dusun ini terletak diatas bukit dan termasuk daerah yang terisolir, karna pendidikan disana atau sekolah yang ada hanya Sekolah Dasar (SD) dengan fasilitas seadanya memiliki 4 ruangan ; 1 kantor, 1 gudang dan 2 ruang pembelajaran. Nah diharapkan para masiswa di seluruh Indonesia biasa terus mengembangkan kegiatan seperti ini agar dapat membantu peningkatan pendidikan di Negara Indonesia ini.

PENUTUP
Kesimpulan
·         Suku Tengger adalah Suku pedalaman jawa yang bertempat tinggal didaerah pegunungan Bromo dan semeru. Suku ini memiliki kegiatan ritual budaya yang masih ada sampai sekarang salah satunya adalah upacara kasada yang diadakan pada tanggal 14-15 kasada.
·         Kurangnya perhatian orang tua kepada anak-anaknya dalam hal pendidikan. Sehingga memaksa mereka hanya mampu mencapai tamatan sekolah dasar saja bahkan ada yang sampai tidak lulus. Hal ini disebabkan pendidikan kurang menjanjikan dalam menghasilkan uang. Dengan penghasilan pertanian yang mereka dapatkan mereka mampu membeli apa saja yang mereka inginkan, inilah penyebab utama mengapa mereka lebih baik menyuruh anaknya membantu mereka di kebun dari pada pergi sekolah.
·         Pentingnya perhatian pemerintah dalam menjangkau daerah-daerah pendalaman dan bersosialisasi akan pentingnya pendidikan bagi generasi bangsa ini
·         Pentingnya perhatian para organisasi mahasiswa untuk dapat mengadakan bakti sosial ke daerah-daerah terpencil seperti daerah-daerah disekitar pegunungan.









Refrensi :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar