MAKALAH
ILMU SOSIAL DASAR
MENGENAL
LEBIH DALAM SUKU TENGGER
Dosen Pengampu : Dr. Hj. Mufidah CH, M. Ag
Oleh :
Adym Ashari 10220104
JURUSAN
HUKUM
BISNIS SYARIAH
FAKULTAS
SYARIAH
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI
MAULANA
MALIK IBRAHIM
MALANG
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Indonesia adalah negera yang kaya akan budaya.
Terlahir sebagai negera agraris yang terdapat banyak kepulauan. Sekitar 13.487
pulau yang ada dinegera ini. Sungguh Negara Indonesia adalah Negara yang sangat
membangga kan dari segi kebudayaan dan kekayaan alamnya akan tetapi dalam segi
ekonomi masih saja banyak rakyat Indonesia ini yang di bawah garis kemiskinan.
Sejarah
Indonesia banyak dipengaruhi oleh bangsa lainnya. Kepulauan Indonesia menjadi
wilayah perdagangan penting setidaknya sejak abad ke-7, yaitu ketika Kerajaan Sriwijaya di Palembang
menjalin hubungan agama dan perdagangan dengan Tiongkok dan India.
Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha telah tumbuh pada awal abad Masehi, diikuti
para pedagang yang membawa agama Islam, serta berbagai kekuatan Eropa yang saling bertempur untuk memonopoli
perdagangan rempah-rempah Maluku semasa
era penjelajahan samudra. Setelah berada di bawah penjajahan Belanda,
Indonesia yang saat itu bernama Hindia
Belanda menyatakan kemerdekaannya di
akhir Perang Dunia II.
Selanjutnya Indonesia mendapat berbagai hambatan, ancaman dan tantangan dari
bencana alam, korupsi, separatisme, proses demokratisasi dan periode perubahan
ekonomi yang pesat.
Dari Sabang sampai Merauke,
Indonesia terdiri dari berbagai Suku, bahasa dan agama yang berbeda. Suku
Jawa adalah
grup etnis terbesar dan secara politis paling dominan. Semboyan nasional
Indonesia, "Bhinneka tunggal ika"
("Berbeda-beda tetapi tetap satu"), berarti keberagaman yang
membentuk negara. Selain memiliki populasi padat dan wilayah yang luas,
Indonesia memiliki wilayah alam yang mendukung tingkat keanekaragaman hayati
terbesar kedua di dunia.
Indonesia
memiliki sekitar 300 kelompok etnis, tiap etnis memiliki warisan budaya yang
berkembang selama berabad-abad, dipengaruhi oleh kebudayaan India, Arab, Cina,
Eropa, dan termasuk kebudayaan sendiri yaitu Melayu. Contohnya tarian Jawa dan Bali tradisional memiliki aspek budaya dan mitologi
Hindu, seperti wayang
kulit yang menampilkan kisah-kisah tentang kejadian
mitologis Hindu Ramayana dan Baratayuda. Banyak
juga seni tari yang berisikan nilai-nilai Islam. Beberapa di antaranya dapat ditemukan di
daerah Sumatera seperti
tari Ratéb Meuseukat dan
tari Seudati dari Aceh.
Seni pantun, gurindam, dan
sebagainya dari pelbagai daerah seperti pantun Melayu, dan pantun-pantun
lainnya acapkali dipergunakan dalam acara-acara tertentu yaitu perhelatan, pentas
seni, dan lain-lain
Kebudayaan nasional adalah
kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasional. Definisi kebudayaan nasional
menurut TAP MPR No.II tahun 1998, yakni :
“Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah
perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan
merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat
dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna
pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan
demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya.Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Wujud, Arti dan Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan
Asli baik Masyarakat Pendukukungnya, Semarang: P&K, 199”
Dalam
kesempatan kali ini saya mencoba mengankat sebuah tema yang mengangkat
kebudayaan Suku di pulau jawa yang konon katanya Suku ini adalah Suku
peninggalan masyarakat majapahit, suatu kerajaan yang pernah Berjaya tahun 1350
hingga 1389 masehi.
B.
Tujuan Penelitian
1.
Mencoba mengangkat kebudayaan Indonesia agar
para generasi bangsa meperhatikannya karna semakin tahun kebudayaan ini semakin
kurang diperhatikan
2.
Mencoba mengenalkan salah satu budaya Indonesia
yang perlu dipertahankan sebagai kekayaan bangsa ini
3.
Mengenal lebih jauh kebudayaan Suku Tengger
4.
Memperhatikan pandangan Suku Tengger dalam
memandang pendidikan anak dan pemudanya
C.
Rumusan Masalah.
1.
Apa itu Suku Tengger ?
2.
Bagaimana kehidupan Suku Tengger?
3.
Bagaimana aspek pendidikan Suku Tengger?
HASIL PENELITIAN
Suku Tengger
Suku Tengger adalah Suku
pegunungan yang mendiami wilayah pegunungan semeru dan Bromo di Profinsi Jawa
Timur, yakni ; Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Malang dan Lumajang, karena
daerah-daerah inilah wilayah pegunungan Bromo dan semeru. Suku ini sudah sejak lama mendiami sekitar lereng pegunungan Bromo
dan semeru,
Sejarah Suku tengger.
Alkisah, zaman dahulu, ada seorang putri Raja
Brawijaya dengan Permaisuri Kerajaan Majapahit. Namanya Rara Anteng. Karena
situasi kerajaan memburuk, Rara Anteng mencari tempat hidup yang lebih aman dan
pergi ke Pegunungan Tengger.
Di Desa
Krajan, ia singgah satu windu, kemudian melanjutkan perjalanan ke Pananjakan.
Ia menetap di Pananjakan dan mulai bercocok tanam. Rara Anteng kemudian
diangkat anak oleh Resi Dadap, seorang pendeta yang bermukim di Pegunungan Bromo.
Sementara
itu, Kediri juga kacau sebagai akibat situasi politik di Majapahit. Joko Seger,
putra seorang brahmana, mengasingkan diri ke Desa Kedawung sambil mencari
pamannya yang tinggal di dekat Gunung Bromo.
Di desa
ini, Joko Seger mendapatkan informasi adanya orang-orang Majapahit yang menetap
di Pananjakan. Joko Seger pun melanjutkan perjalanannya sampai Pananjakan. Joko
Seger tersesat dan bertemu Rara Anteng yang segera mengajaknya ke kediamannya.
Sesampai di kediamannya, Rara Anteng dituduh telah berbuat serong dengan Joko
Seger oleh para pinisepuhnya. Joko Seger membela Rara Anteng dan menyatakan hal
itu tidak benar, kemudian melamar gadis itu. Lamaran diterima. Resi Dadap Putih
mengesahkan perkawinan mereka.
Sewindu
sudah perkawinan itu namun tak juga mereka dikaruniai anak. Mereka bertapa 6 tahun
dan setiap tahun berganti arah. Sang Hyang Widi Wasa menanggapi semedi mereka.
Dari puncak Gunung Bromo keluar semburan cahaya yang kemudian menyusup ke dalam
jiwa Rara Anteng dan Joko Seger. Ada pawisik mereka akan dikaruniai anak, namun
anak terakhir harus dikorbankan di kawah Gunung Bromo. Pasangan ini dikarunia
25 anak sesuai permohonan mereka, karena wilayah Tengger penduduknya sangat
sedikit. Putra terakhir bernama R Kusuma. Bertahun-tahun kemudian Gunung Bromo
mengeluarkan semburan api sebagai tanda janji harus ditepati. Suami istri itu
tak rela mengorbankan anak bungsu mereka. R Kusuma kemudian disembunyikan di
sekitar Desa Ngadas. Namun semburan api itu sampai juga di Ngadas. R Kusuma
lantas pergi ke kawah Gunung Bromo.
Dari
kawah terdengar suara R Kusuma supaya saudara-saudaranya hidup rukun. Ia rela
berkorban sebagai wakil saudara-saudaranya dan masyarakat setempat. Ia
berpesan, setiap tanggal 14 Kesada, minta upeti hasil bumi. Cerita lain
menunjukkan saudara-saudara R Kusuma menjadi penjaga tempat-tempat lain. Kini
banyak wisatawan yang datang ke Bromo pada saat upacara berlangsung. Upacara
itu terkenal dengan nama Kesada. Pada upacara Kesada, salah satu bagiannya
adalah, dukun selalu meriwayatkan kisah Joko Seger – Rara Anteng.
Agama Suku Tenger
Suku Tengger mayoritas beragama Hindu walaupun juga ada yang beragama islam dan kristen ,
turun-temurun hidup di wilayah Gunung Bromo, Jawa Timur. Kulitnya sawo matang,
perawakannya sedang, wajahnya rata-rata lebar.
Makna Tengger
Ada
banyak makna yang dikandung dari kata Tengger. Secara etimologis, Tengger
berarti berdiri tegak, diam tanpa bergerak (Jawa). Bila dihubungkan adat dan
kepercayaan, arti Tengger adalah tengering budi luhur.
Artinya
tanda bahwa warganya memiliki budi luhur. Makna lainnya adalah: daerah
pegunungan. Tengger memang berada pada lereng pegunungan Tengger dan Semeru.
Ada pula pengaitan Tengger dengan mitos masyarakat tentang suami istri cikal
bakal penghuni wilayah Tengger, yakni Rara Anteng dan Joko Seger.
Warga
Tengger pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani sayuran. Kesuburan
lahan di lereng-lereng perbukitan dengan kemiringan yang terjal ini tidak
terlepas dari kondisi pegunungan Tengger yang berada di antara dua gunung yang
masih aktif, Gunung Bromo dan Gunung
Semeru. Pertanian yang mereka hasilkan dijual keluar
desanya dengan bantuan pengepul yang yang datang dari Probolinggo, Pasuruan
bahkan dari Surabaya datang untuk membeli hasil pertanian dari peggunungan
tengger. Selain bertani, ada sebagian masyarakat Tengger yang berprofesi
menjadi pemandu wisatawan di Bromo. Salah satu cara yang digunakan adalah
dengan menawarkan kuda yang mereka miliki untuk disewakan kepada wisatawan.
Pertunangan dan Perkawinan
Pada umumnya masyarakat Tengger mempunyai pendirian yang
cukup bermoral atas perkawinan. Poligami dan perceraian boleh dikatakan tidak
pernah terjadi. Perkawinan di bawah umur juga jarang terjadi. Dalam pertunangan
(pacangan), lamaran dilakukan oleh orangtua pria. Sebelumnya didahului dengan
pertemuan antara kedua calon, atas dasar rasa senang kedua belah pihak. Apabila
kedua belah pihak telah sepakat, maka orangtua pihak wanita (sebagai calon)
berkunjung ke orangtua pihak pria untuk menanyakan persetujuannya atau notok.
Selanjutnya apabila orangtua pihak pria telah menyetujui, diteruskan dengan
kunjungan dari pihak orangtua pria untuk menyampaikan ikatan (peningset) dan
menentukan hari perkawinan yang disetujui oleh kedua belah pihak. Sesudah itu
barulah upacara perkawinan dilakukan.
Sebelum acara perkawinan biasanya telah dimintakan
nasihat kepada dukun mengenai kapan sebaiknya hari perkawinan itu dilaksanakan.
Dukun akan memberikan saran (menetapkan) hari yang baik dan tepat, ‘papan’
tempat pelaksanaan perkawinan, dan sebagainya. Setelah hari untuk upacara
perkawinan ditentukan, maka diawali selamatan kecil (dengan sajian bubur merah
dan bubur putih).
Sebagai kelengkapan upacara perkawinan, maka pasangan
pengantin diarak (upacara ngarak) keliling, diikuti oleh empat gadis dan empat
jejaka dengan diiringi gamelan. Pada upacara perkawinan pengantin wanita
memberikan hadiah bokor tembaga berisi sirih lengkap dengan tembakau, rokok dan
lain, sedangkan pengantin pria memberikan hadiah berupa sebuah keranjang berisi
buah-buahan, beras dan mas kawin.
Pada upacara asrah pengantin, masing-masing pihak
diwakili oleh seorang utusan. Para wakil mengadakan pembicaraan mengenai
kewajiban dalam perkawinan dengan disaksikan oleh seoran dukun. Pada upacara
pernikahan dibuatkan petra (petara: boneka sebagai tempat roh nenek moyang) supaya
roh nenek moyangnya bisa hadir menyaksikan.
Biasanya setelah melakukan perkawinan kemanten pria harus
tinggal dirumah (mengikuti) kemanten wanita.
Hak Waris
Pada dasarnya masyarakat Tengger mempertahankan hak waris
tanah untuk anak keturunan mereka saja. Apabila ada keluarga yang terpaksa
menjual hak tanah, diusahakan untuk dibeli oleh keluarga yang terdekat.
Pewarisan kepada anak-turunannya ditentukan oleh kerelaan pihak orang tua,
bukan atas dasar aturan ketat yang dibakuka
Upacara Adat
Suku Tengger kaya akan
kepercayaan dan upacara adat, diantaranya ialah:
Upacara Adat
Karo : Dilakukan pada bulan Puso, yang merupakan hari raya terbesar
masyarakat Tengger, tujuan penyelenggaraan upacara karo adalah Mengadakan
pemujaan terhadap Sang Hyang Widi Wasa dan menghormati leluhurnya, memperingati
asal usul manusia, untuk kembali pada kesucian.
Upacara Pujan
Kapat : Jatuh pada bulan keempat menurut tahun saka, bertujuan untuk
memohon berkah keselamatan serta selamat kiblat, yaitu pemujaan terhadap arah
mata angin.
Upacara Pujan Kawolu
: Jatuh pada bulan kedelapan tahun saka. Masyarakat mengirimkan sesaji ke
kepala desa, dengan tujuan untuk keselamatan bumi, air, api, angin, matahari,
bulan dan bintang.
Upacara Pujan Kasanga
: Jatuh pada bulan sembilan tahun saka. Masyarakat berkeliling desa dengan
membunyikan kentongan dengan membawa obor. Tujuan upacara ini adalah memohon
kepada Sang Hyang Widi Wasa untuk keselamatan Masyarakat Tengger.
Upacara Pujan Kasada
: Upacara ini disebut juga sebagai Hari Raya Kurban. Biasanya lima hari sebelum
upacara Yadnya Kasada.
Upacara Bari’an :
Upacara ini dilakukan setelah terjadi bencana alam, dilaksanakan 5-7 hari
setelah bencana itu terjadi. Upacara Bari’an juga dilaksanakan sebagai wujud
ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widi.
Upacara Unan-unan :
Diadakan hanya setiap lima tahun sekali. Tujuannya untuk melalukakan
penghormatan terhadap Roh Leluhur. Dalam upacara ini selalu diadakan
penyembelihan binatang ternak yaitu Kerbau. Kepala Kerbau dan kulitnya
diletakkan diatas ancak besar yang terbuat dari bambu, diarak ke sanggar
pamujan.
Upacara Entas-entas
: Dimaksudkan untuk menyucikan arwah (roh) orang yang telah meninggal dunia
supaya orang tersebut masuk surga, dilakukan pada hari ke 1000 setelah orang
tersebut meninggal
Kalender Suku Tengger
Suku Tengger sudah mengenal dan mempunyai sistem kalender
sendiri yang mereka namakan Tahun Saka atau Saka Warsa., jumlah usia kalender
suku tengger berjumlah 30 hari (masing-masing bulan dibulatkan),tetapi ada
perbedaan penyebutan usia hari yaitu antara tanggal 1 sampai dengan 15 disebut
tanggal hari,dan 15 sampai 30 disebut Panglong Hari (penyebutannya adalah
Panglong siji,panglong loro dan seterusnya) . Pada tanggal dan bulan tertentu
terdapat tanggal yang digabungkan yaitu tumbuknya dua tanggal. Pada tanggal
Perhitungan Tahun Saka di Indonesia jatuh pada tanggal 1
(sepisan) sasih kedhasa (bulan ke sepuluh), yaitu sehari setelah bulan tilem
(bulan mati), tepatnya pada bulan Maret dalam Tahun Masehi (Supriyono, 1992).
Cara menghitungnya dengan rumus : tiap bulan berlangsung 30 hari, sehingga
dalam 12 bulan terdapat 360 hari. Sedangkan untuk wuku dan hari pasaran
tertentu dianggap sebagai wuku atau hari tumbuk, sehingga ada dua tanggal yang
harus disatukan dan akan terjadi pengurangan jumlah hari pada tiap tahunnya.
Untuk melengkapi atau menyempurnakannya diadakan perhitungan kembali setiap
lima tahun, atau satu windu tahun wuku. Pada waktu itu ada bulan yang
ditiadakan, digunakan untuk mengadakan perayaan Unan-unan, yang kemudian
tanggal dan bulan seterusnya digunakan untuk memulai bulan berikutnya, yaitu
bulan Dhesta atau bulan ke-sebelas.
MECAK (Perhitungan Kalender Tengger ),istilah mecak
biasanya digunakan untuk menghitung atau mencari tanggal yang tepat untuk
melaksankan Upacara-upacara besar seperti Karo,Kasada maupun Upacara Unan-unan.
NAMA – NAMA HARI SUKU TENGGER.
1. DHITE : MINGGU
2. SHOMA : SENIN
3. ANGGARA : SELASA
4. BUDHA : R A B U
5. RESPATI : KAMIS
6. SUKRA : JUM’AT
7. TUMPEK : SABTU
2. SHOMA : SENIN
3. ANGGARA : SELASA
4. BUDHA : R A B U
5. RESPATI : KAMIS
6. SUKRA : JUM’AT
7. TUMPEK : SABTU
NAMA – NAMA BULAN SUKU TENGGER
1. KARTIKA : KASA
2. PUSA : KARO
3. MANGGASTRI : KATIGA
4. SITRA : KAPAT
5. MANGGAKALA : KALIMA
6. NAYA : KANEM
7. PALGUNO : KAPITU
8. WISAKA : KAWOLU
9. JITO : KASANGA
10. SERAWANA : KASEPOLOH
11. PANDRAWANA : DESTHA
12. ASUJI : KASADA
2. PUSA : KARO
3. MANGGASTRI : KATIGA
4. SITRA : KAPAT
5. MANGGAKALA : KALIMA
6. NAYA : KANEM
7. PALGUNO : KAPITU
8. WISAKA : KAWOLU
9. JITO : KASANGA
10. SERAWANA : KASEPOLOH
11. PANDRAWANA : DESTHA
12. ASUJI : KASADA
Permaslahan
Permasalahan
pertama yang sangan urgent adalah kurangnya perhatian pemerintah kita akan
pentingnya menjaga kekayaan budaya yang ada di negarakita ini. Seiring
perkembangan zaman kebudayaan di Negeri ini semakin luntur, semakin pesatnya
pekembangan teknologi
Dari
wawancara yang kami lakukan dengan penjaga kantor raadiologi di taman nasional Bromo
Tengger semeru, masyarakat tenggger terutama yang beragama hindu kurang sekali
memperhatikan pendidikan, bukan karena mereka tidak mampu akan tetapi dalam
anggapan mereka tanpa mereka sekolah mereka bisa mendapatkan apa yang mereka
inginkan (materi), mereka bisa beli mobil, sepeda motor dan lain sebagainya,
mayoritas riwayat pendidikan mereka adalah sekolah dasar. Mata pencaharian Suku
Tengger rata-rata adalah bertani sayur-sayuran. Dari hasil inilah mereka banyak
memperroleh keuntungan untuk dapat membeli apa yang mereka inginkan.
Yang
uniknya pada Suku ini ialah mereka sangat rukun dengan para masyarakat Tengger
lainnya yang memeluk agam selain agama hindu, di mata mereka semua agama tidak
ada bedanya, malah ada yang beranggapan Tengger itulah agama mereka jadi tak
ada perpedaan keyakinan diantara mereka.
Solusi
Masalah
Kita
sebagai mahasiswa haruslah sadar akan pentingnya menjaga kebudayaan Negeri kita
tersinta ini. Dengan kesadaran generasi bangs ini mungkin dapat mengurangi
tingkat kelunturan budaya di Negara ini. Yang sangat penting sebenarnya adalah
peran pemerintah dalam mempertahankan kebudayaan. Jangan hanya waktu salah satu kebudayaan kita dicaplok negara lain pemeirntahan baru ribut
membicarakannya.
Dan juga
yang tidak kalah pentingnya adalah peran mahasiswa. Banyak organisasi-organisasi
mahasiswa yang berkembang di kampus-kampus, nah sumbangsih dari oraganisasi
inilah yang sangat di harapkan dapat membantu melestarikan budaya Indonesia.
Dengan menyumbangkan segenap pemikiran dan tenaganya untuk dapat mengangkat
kembali kekayaan budaya yang ada di Indonesia ini.
Dalam
masalah pendidikan mahasiswa juga berperan penting dalam peningkatan pendidikan
masyarakat pedalaman seperti Suku Tengger ini. Contoh mahasiswa dapat
mengadakan bakti social ke daerah-daerah pedalaman yang terisolir, dan luput
dari perhatian pemerintah, sebagaimana yang akan saya lakukan tanggal 12-15
januari nanti. Saya bersama saudara-saudara saya di MAPALA TURSINA akan
mengadakan bakti sosial di
dusun pusung daerah singosari.
Dusun ini terletak diatas bukit dan termasuk daerah yang terisolir, karna
pendidikan disana atau sekolah yang ada hanya Sekolah Dasar (SD) dengan
fasilitas seadanya memiliki 4 ruangan ; 1 kantor, 1 gudang dan 2 ruang
pembelajaran. Nah diharapkan para masiswa di seluruh Indonesia biasa terus mengembangkan kegiatan seperti ini agar
dapat membantu peningkatan pendidikan di Negara Indonesia ini.
PENUTUP
Kesimpulan
·
Suku Tengger adalah Suku pedalaman jawa yang bertempat
tinggal didaerah pegunungan Bromo dan semeru. Suku ini memiliki kegiatan ritual
budaya yang masih ada sampai sekarang salah satunya adalah upacara kasada yang
diadakan pada tanggal 14-15 kasada.
·
Kurangnya perhatian orang tua kepada anak-anaknya dalam
hal pendidikan. Sehingga memaksa mereka hanya mampu mencapai tamatan sekolah
dasar saja bahkan ada yang sampai tidak lulus. Hal ini disebabkan pendidikan
kurang menjanjikan dalam menghasilkan uang. Dengan penghasilan pertanian yang
mereka dapatkan mereka mampu membeli apa saja yang mereka inginkan, inilah
penyebab utama mengapa mereka lebih baik menyuruh anaknya membantu mereka di kebun
dari pada pergi sekolah.
·
Pentingnya perhatian pemerintah dalam menjangkau
daerah-daerah pendalaman dan bersosialisasi akan pentingnya pendidikan bagi
generasi bangsa ini
·
Pentingnya perhatian para organisasi mahasiswa untuk
dapat mengadakan bakti sosial ke daerah-daerah terpencil seperti daerah-daerah
disekitar pegunungan.
Refrensi :