TUGAS
UJIAN FILSAFAT ILMU
“Tinjauan Ilmu
Penyuluhan dalam Perspektif Filsafat Ilmu”
DOSEN
PEMBIMBING
Erik
Sabti
DI SUSUN OLEH :
Adym Ashari :
10220104
FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG 2010/2011
A.
PENDAHULUAN
I.
Latar belakang
Manusia mempunyai seperangkat
pengetahuan yang bisa membedakan antara benar dan salah, baik dan buruk. Namun
penilaian ini hanya bisa dilakukan oleh orang lain yang melihat kita. Orang
lain yang mampu memberikan penilaian secara objektif dan tuntas dan pihak lain
yang melakukan penilaian sekaligus memberikan arti adalah pengetahuan yang
disebut filsafat. Filsafat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari kita.
Kemungkinan filsafat bisa juga disebut dengan apresiasi.
Dalam hal ini saya akan membahas
ilmu penyuluhan dalam perspektif filsafat ilmu, darena ketertarikansaya untuk
menguraikan since dalam pandangan filsafat.
II. Tujuan
penulisan
Tujuan penulisan ini ialah ingin
mengetahui lebih jelas pe dalam sudut pandang Filsafat Ilmu, bagaimana cara
lilsafat dalam menguraikan setiap masalah dalam since. Apa saja yang didapat
memendang since dari sudut pandang filsafat ilmu
B.
PEMBAHASAN
Filsafat mencoba
memberikan gambaran tentang pemikiran manusia secara keseluruhan dan bahkan
tentang realitas jika hal ini diyakini dapat dilakukan. Dalam perkembangan
sejarah istilah filsafat, falsafah atau filosofi ternyata dipakai dengan arti yang
beraneka ragam. Bagi orang Yunani Kuno filsafat secara harfiah berarti cinta
kepada kebijaksanaan, namun dalam keadaan sekarang digunakan dalam banyak
konteks. Memiliki falsafah dapat diartikan memiliki pandangan hidup,
seperangkat pedoman hidup, ataupun nilai-nilai tertentu. Istilah filusuf semula
bemakna pencinta kebijaksanaan dan berasal dari jawaban yang diberikan oleh
Phytagoras ketika ia disebut bijak. Ia berkata bahwa kebijaksanaannya hanya
berarti kesadaran bahwa ia bodoh, sehingga ia tidak dapat disebut bijak tetapi
orang mencari kebijaksanaan. Disini kebijaksanaan tidak dibatasi dari bagian
tertentu dari pemikiran. Permasalahan yang berada dalam filsafat menyangkut
pertanyaan, pertanyaan mengenai makna, kebenaran dan hubungan yang logis antara
ideide yang tidak dapat dipecahkan oleh ilmu pengetahuan empiris.
Filsafat membawa kepada pemahaman
dan tindakan. Tujuan filsafat adalah
mengumpulkan pengetahuan sebanyak
mungkin, dan menerbitkan dan mengatur semuanya itu di dalam bentuk yang
sistematis. Filsafat membawa kita kepada pemahaman dan pemahaman membawa kita
kepada tindakan yang lebih layak. Keinginan kefilsafatan adalah pemikiran
secara ketat. Filsafat merupakan suatu analisis secara hati-hati terhadap
penalaran-penalaran suatu masalah dan penyusunan secara sengaja serta
sistematis atas suatu sudut pandang yang menjadi dasar suatu tindakan. Perlu
diingat bahwa kegiatan yang dinamakan kegiatan kefilsafatan itu sesungguhnya
merupakan perenungan atau pemikiran. Pemikiran jenis ini berupa meragukan
segala sesuatu, mengajukan pertanyaan
menghubungkan gagasan yang satu dengan yang lain, menanyakan “mengapa”
dan mencari jawaban yang lebih baik dibandingkan dengan jawaban yang tersedia
pada pandangan pertama. Filsafat sebagai perenungan mengusahakan kejelasan,
keruntutan dan keadaan memadainya pengetahuan agar kita dapat mengetahui
pemahaman.
Setelah
dijelaskan tentang beberapa pengertian filsafat, akan muncul pertanyaan
bagaimana hubungan antara ilmu dengan filsafat. Agar ada kejelasan berikut ini
dijelaskan beberapa pengertian tentang ilmu. Ilmu berasal dari bahasa Arab, alama.
Arti dasar dari kata ini adalah pengetahuan. Penggunaan kata ilmu dalam
proposisi bahasa Indonesia sering disejajarkan dengan kata science dalam bahasa
Inggris. Kata science itu sendiri memang bukan bahasa Asli Inggris, tetapi
merupakan serapan dari bahasa Latin, Scio, scire yang arti dasarnya
pengetahuan. Ada juga yang menyebutkan bahwa science berasal dari kata scientia
yang berarti pengetahuan. Scientia bersumber dari bahasa Latin Scire yang
artinya mengetahui : 1) Terlepas dari berbagai perbedaan asal kata, tetapi jika
benar ilmu disejajarkan dengan kata science dalam bahasa Inggris, maka
pengertiannya adalah pengetahuan. Pengetahuan yang dipakai dalam bahasa
Indonesia, kata dasarnya adalah “tahu”. 2) Secara umum pengertian dari kata
“tahu”
Ilmu adalah suatu pengetahuan ilmiah
yang memiliki syarat-syarat :
a)
dasar pembenaran, yang dapat dibuktikan dengan metode ilmiah dan teruji
dengan cara kerja ilmiah,
b)
sistematik, yaitu terdapatnya sistem yang tersusun dari mulai proses,
metode dan produk yang saling terkait dan
c)
inter subyektif, yaitu terjamin keabsahan atau kebenarannya. Dilain
pihak, sifat ilmu yang penting adalah :
- universal : berlaku umum, lintas ruang dan waktu yang berada di bumi ini,
- communicable: dapat dikomunikasikan dan memberikan pengetahuan baru kepada orang lain,
- progresif : adanya kemajuan, perkembangan atau peningkatan yang merupakan tuntutan modern.
Apakah Penyuluhan adalah Ilmu ?
Mencermati penjelasan di atas,
penyuluhan apakah sebuah ilmu ?. Jika suatu ilmu merupakan dasar
pembenaran, maka penyuluhan adalah ilmu karena dengan member informasi
misalnya kepada masyarakat dan informasi ini dapat diterima dengan baik maka
dibutuhkan kajian atau metode yang baik yang dapat dilakukan untuk menyampaikan
informasi tersebut dengan benar. Sebagai ilmu, penyuluhan memenuhi kriteria
sistematik, karena memberi informasi kepada masyarakat dibutuhkan proses,
metode dan produk informasi yang dihasilkan atau diterima ke masyarakat.
Dari sisi sifat ilmu, penyuluhan
memenuhi kriteria universal, communicable dan progresif. Secara universal,
penyuluhan dapat digunakan dalam berbagai bidang atau
aspek kemasyarakatan sehingga
bersifat umum dan dapat dimanfaatkan oleh berbagai
pihak, penyuluhan bersifat
communicable, karena dapat disampaikan kepada masyarakat dan dengan memberi
penyuluhan atau memberi informasi kepada masyarakat akan memberikan pengetahuan
baru kepada masyarakat.
Penyuluhan
dalam Sistematika Filsafat Ilmu.
Filsafat beserta cabang-cabangnya
secara sederhana terbagi menjadi tiga macam yang menjadi lahan kerja filsafat,
yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ketiga dari
lahan garapan filsafat tersebut termuat dalam tiga pertanyaan dimana dalam
ontologi bertanya
tentang apa. Pertanyaan apa tersebut merupakan pertanyaan dasar dari sesuatu. Sedangkan dalam epistemologi, mengenalinya
dengan menggunakan pertanyaan mengapa.
Sedangkan untuk aksiologi merupakan
kelanjutan dari dari epistemologi dengan menggunakan
pertanyaan bagaimana. Pertanyaan bagaimana tersebut merupakan
kelanjutan dari setelah mengetahui
dan cara mengetahuinya diteruskan dengan bagaimanakah
sikap kita selanjutnya. Sistematika dalam filsafat mencakup dengan tiga
pertanyaan apa yang dapat saya
ketahui, apa yang dapat saya harapkan, apa yang dapatsaya lakukan.
Suatu paradigma ilmu termasuk
penyuluhan pada hakekatnya mengharuskan ilmuwan untuk
mencari jawaban atas suatu pertanyaan mendasar yaitu bagaimana, apa dan untuk
apa. Tiga pertanyaan di atas dirumuskan menjadi beberapa dimensi yaitu :
Dimensi ontologis yaitu apa
sebenarnya hakikat dari sesuatu kejadian alam dan sosial
ekonomi masyarakat yang dapat
diketahuinya atau apa hakikat dari setiap kejadian di
penyuluhan selama ini ditinjau sebagai ilmu; mengapa kita melakukan penyuluhan;
bagaimana hubungan sumberdaya alam/manusia dengan sistem nilai penyuluhan
dan sistem nilai suatu kebijakan pembangunan; bagaimana sector peternakan
di Indonesia dinilai terpinggirkan ketimbang kebijakan industry manufaktur,
sehingga terjadi transformasi struktural semu dan sebagainya.
Dimensi epistemologis yaitu
apa sebenarnya hakikat hubungan antara pencari ilmu
khususnya di bidang penyuluhan
peternakan dengan fenomena obyek yang ditemukannya; bagaimana prosedurnya;
hal-hal apa yang seharusnya diperhatikan untuk memperoleh pengetahuan tentang
penyuluhan peternakan yang benar; apa kriteria benar itu; model, metode dan
pendekatan apa dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan penyuluhan peternakan
sebagai suatu ilmu.
Dimensi axiologis yaitu
seberapa jauh peran sistem nilai dalam suatu penelitian tentang penyuluhan
peternakan; untuk apa mengetahui penyuluhan peternakan; bagaimana menentukan
obyek dan teknik prosedural suatu telaahan penyuluhan peternakan dengan
mempertimbangkan kaidah moral atau profesional. Terkait dengan pengembangan
penyuluhan, tiga dimensi yang telah dipaparkan diatas selayaknya ditambahkan
dua dimensi untuk melengkapinya yaitu:
Dimensi retorik yaitu apa
bahasa yang digunakan dalam penyuluhan peternakan untuk
meningkatkan adopsi teknologi pakan;
bagaimana dengan bahasa yang dipakai sebagai alat berpikir dan sekaligus
menjadi alat komunikasi yang berfungsi untuk menyampaikan jalan pikirannya
kepada orang lain; bahasa yang dipakai seharusnya sebagai sarana ilmiah dan
tentunya obyektif namun menafikan kecenderungan sifat emotif dan afektif;
Dimensi metodologis yaitu bagaimana cara atau metodologi yang
dipakai dalam menemukan kebenaran suatu ilmu pengetahuan penyuluhan peternakan
kaitannya dengan fenomena adopsi teknologi misalnya; apakah deduktif atau
induktif; monodisiplin, multidisiplin dan interdisiplin; kuantitatif atau
kualitatif atau kombinasi keduanya; penelitian dasar atau terapan. Berkaitan pula
dengan penyuluhan
peternakan, khususnya bagi yang berminat dalam kegiatan penelitian, diperlukan
penerapan metodologi dalam program penelitian.
Mempelajari Penyuluhan
Bagi seorang pemula, memasuki dunia
filsafat berarti memasuki ranah dunia yang begitu
mempesona sekaligus menantang dengan puluhan filosof dengan pemikirannya masing-masing.
Untuk menyelami maka diperlukan bagaimana cara mendekati filsafat dan bagaimana
cara masuk untuk mempelajarinya.
Pertama adalah pendekatan secara
historis dengan berbagai variasinya. Metode ini dipandang baik bagi para
pemula, dalam pendekatan ini pemikiran para filusuf terpenting
dan latar belakang mereka dipelajarai secara kronologis. Secara sederhana dalam sejarahnya
filsafat terbagi menjadi tiga zaman yaitu Yunani Kuno, pertengahan danmodern.
Kedua adalah pendekatan metodologis cara ini memahami filsafat adalah kita berfilsafat.
Dalam pendekatan ini, berbagai macam metode filsafat ditimbang-timbang dan metode
tersebut dipandang terbaik untuk melakukan filsafat. Ketiga adalah pendekatan analisis
dalam pendekatan ini dalam mempelajari filsafat kita menjelaskan unsur-unsur
dari filsafat
dan dalam pendekatan ini unsur filsafat dijelaskan dengan sejelas-jelasnya.
Keempat adalah pendekatan
eksistensial dalam pendekatan ini memperkenalkan jalan hidup filosofis tanpa
terbelenggu oleh sistematikanya. Pendekatan ini tema-tema pokok filsafat
dialami dengan harapan memperoleh gambaran filsafat secara keseluruhan.
Terdapat cukup alasan yang baik untuk belajar filsafat, khususnya apabila
ada pertanyaan-pertanyaan rasional yang tidak dapat atau seyogyanya tidak
dijawab oleh ilmu atau cabang ilmu-ilmu. Misalnya apakah yang dimaksud dengan
pengetahuan dan atauilmu? Dapatkah kita bergerak ke kiri dan kanan di dalam
ruang tetapi tidak terikat olehwaktu? Dapatkah masyarakat menerima atau tidak
sebuah informasi dengan penyuluhan?
Dalam pembelajaran filsafat ilmu dalam ilmu-ilmu sosial misalnya penyuluhan
maka beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah :
Perlu penelaahan peran filsafat ilmu dalam memberikan spirit perkembangan
dan kemajuan ilmu penyuluhan sekaligus kandungan nilai-nilai moral yang
terkandung di dalamnya baik pada tataran ontologi, epistemologi maupun
aksiologi. Disamping itu
perlu dikaji kaitan ilmu-ilmu beragam dimensi dan fenomena sosial masyarakat dalam
suatu realitas yang komprehensif. Meningkatkan
pemahaman tentang hakikat manusia sebagai individu dan anggota sistem
sosial dan tentunya sebagai mahluk Allah pencipta alam semesta.
Mengembangkan kesadaran bahwa ilmu
yang dimilikinya masih jauh dari cukup. Bagaimana
menyadarkan mereka bahwa ilmu itu tidak ada batasnya sementara kemampuan
manusia terbatas. Dan ini sangat penting untuk menumbuhkan sifat rendah
hati dimana melihat sesuatu itu jangan hanya dari kaca mata ilmunya saja. Masih banyak kaca mata lain dalam menelaah sesuatu.
Dengan memfokuskan diri pada pertanyaan- pertanyaan dasar tersebut,
filsafat ilmu tidak lagi bersifat deskriptif sebagaimana diusahakan ilmu-ilmu
empiris, melainkan bersifat normatif kritis. Perhatian utama setiap filsafat ilmu
adalah menjelaskan norma-norma
dasar dari bangunan ilmu. Ia tidak hanya menjelaskan ilmu apa adanya
melainkan secara kritis merefleksikan ilmu itu, sehingga pertanyaan “bagaimana
seharusnya ilmu itu” dapat dijawab dengan baik. Jika etika ilmu mengarahkan
perhatiannya pada masalah kriteria kebaikan ilmu bagi hidup manusia
maka epistemologi ilmu akan mengarahkan dirinya pada masalah criteria kebenaran
dan kebebasan ilmu.
Agar para penuntut ilmu mampu lebih mengerti dalam memahami filsafat ilmu penyuluhan
maka hendaknya dalam teknik pembelajaran diterapkan pendekatanpendekatan : (a)
Setiap pembahasan beragam dimensi filsafat ilmu sebaiknya dilakukan dengan cara
menarik dan tidak monoton yakni dengan pemberian
contoh-contoh nyata/aktual dari gejala-gejala sosial yang ada di
masyarakat; (b) Aktif untuk berpikir dan menganalisis fenomena sosial dengan
menggunakan filsafat sebagai salah satu rujukannya.
Kesimpulan
Filsafat beserta cabang-cabangnya
secara sederhana terbagi menjadi tiga macam yang menjadi lahan kerja filsafat,
yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi.
Dimensi ontologis yaitu apa
sebenarnya hakikat dari sesuatu kejadian alam dan social ekonomi masyarakat
yang dapat diketahuinya atau apa hakikat dari setiap kejadian di
penyuluhan selama ini ditinjau sebagai ilmu
Dimensi epistemologis yaitu
apa sebenarnya hakikat hubungan antara pencari ilmu
khususnya di bidang penyuluhan
peternakan dengan fenomena obyek yang ditemukannya; bagaimana prosedurnya;
hal-hal apa yang seharusnya diperhatikan untuk memperoleh pengetahuan tentang
penyuluhan peternakan yang benar; apa kriteria benar itu; model, metode dan
pendekatan apa dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan penyuluhan peternakan
sebagai suatu ilmu.
Dimensi axiologis yaitu
seberapa jauh peran sistem nilai dalam suatu penelitian tentang penyuluhan
peternakan; untuk apa mengetahui penyuluhan peternakan; bagaimana menentukan
obyek dan teknik prosedural suatu telaahan penyuluhan peternakan dengan
mempertimbangkan kaidah moral atau profesional.
Dimensi retorik yaitu apa
bahasa yang digunakan dalam penyuluhan peternakan untuk
meningkatkan adopsi teknologi pakan;
bagaimana dengan bahasa yang dipakai sebagai alat berpikir dan sekaligus
menjadi alat komunikasi yang berfungsi untuk menyampaikan jalan pikirannya
kepada orang lain
Dimensi metodologis yaitu bagaimana cara atau metodologi yang
dipakai dalam menemukan kebenaran suatu ilmu pengetahuan penyuluhan peternakan kaitannya
dengan fenomena adopsi teknologi misalnya; apakah deduktif atau induktif;
monodisiplin, multidisiplin dan interdisiplin; kuantitatif atau kualitatif atau
kombinasi keduanya
Cara mempelajari ilmu penyuluhan.
- Pertama adalah pendekatan secara historis dengan berbagai variasinya
- Kedua adalah pendekatan metodologis cara ini memahami filsafat adalah kita berfilsafat.
- Ketiga adalah pendekatan analisis dalam pendekatan ini dalam mempelajari filsafat kita menjelaskan unsur-unsur dari filsafat dan dalam pendekatan ini unsur filsafat dijelaskan dengan sejelas-jelasnya.
- Keempat adalah pendekatan eksistensial dalam pendekatan ini memperkenalkan jalan hidup filosofis tanpa terbelenggu oleh sistematikanya.
·








